Rabu, 16 April 2014

BENTENG TOBOALI, PENINGGALAN GAGAH DI SELATAN BANGKA


Liburan ke Bangka jangan cuma mampir di pantai saja, cobalah datang ke Benteng Toboali. Inilah benteng gagah yang sudah ada sejak masa kolonial dulu. Anda yang pernah ke Pulau Bangka, atau paling tidak tahu akan pulau penghasil lada itu, pasti mengira bahwa pantai adalah potensi wisata satu-satunya daerah itu. Jangan salah, selain diberkahi pantai-pantai elok, Pulau Bangka juga menyajikan alternatif wisata lain yang sayang bila dilewatkan.



Wisata sejarah misalnya, salah satunya adalah Benteng Toboali yang tepat paling ujung Kota Toboali, Ibukota Kabupaten Bangka Selatan. Lantas, apa istimewanya tempat ini sehingga harus dikunjungi? Nah, tentu saja Benteng Toboali punya keistimewaan yang dimilkinya. Selain nilai historis yang sudah pasti ia miliki, dari benteng ini kita bisa melihat Kota Toboali dari dataran tinggi. Benteng Toboali memang terletak sedikit lebih tinggi dari banguan yang ada di seputarnya, termasuk rumah penduduk yang berjejer di hadapannya.

Selain itu, dari benteng ini pula kita bisa menyaksikan keindahan Pantai Nek Aji, salah satu pantai yang ada di wilayah Kota Toboali. Angin sepoi-sepoi yang bertiup dari selatan menambah susana menjadi lebih sejuk. Menurut cerita, Benteng Toboali dibangun sekitar tahun 1825 oleh pemerintah kolonial Belanda kala itu. Sudah lama sekali bukan? Belanda sengaja membangun benteng ini untuk melindungi pertambangan timah yang kala itu melimpah di Pulau Bangka, utamanya daerah Toboali, sekaligus menjadi tempat pengawasan Belanda akan kemungkinan musuh merebut daerah kekuasannya itu.



Apabila merujuk pada tahun benteng itu dibangun, Benteng Toboali bisa jadi menjadi salah satu benteng tua di negara ini. Apalagi bisa diperhatikan secara fisik, Benteng Toboali sebagain besar memang sudah hancur. Pemerintah daerah setempat sepertinya sengaja membiarkan kondisi benteng seperti adanya, supaya terkesan alami. Namun, justru kondisi Benteng Toboali yang seperti itulah yang menurut saya menjadi salah satu daya tarik Benteng Toboali. Warnanya yang kecoklat-coklatan, dipadu dengan akar pohon yang merambah pada sebagian sisi pohon membuat eksosisme Benteng Toboali kian terasa. Jadi, tunggu apalagi, segeralah bertandang ke Benteng Toboali. Apalagi untuk datang ke tempat ini aksesnya cukup mudah, sebab benteng ini berada di Kota Toboali, pusat kegiatan masyarakat Kabupaten Bangka Selatan.

(Artiel yang sama juga bisa dibaca di travel.detik.com dengan judul "Benteng Toboali, Peninggalan Gagah di Selatan Bangka" oleh penulis yang sama)

KALIAN HARUS DATANG KE PANTAI TANJUNG KALIAN!




Perpaduan langit dan air pantai kebiru-biruan menjadi sajian wajib di Pantai Tanjung Kalian, Bangka. Tapi jangan cuma sekedar menikmati eloknya saja. Pantai ini juga punya warisan sejarah, salah satunya Perang Dunia II. Nah, mungkinkah belajar sejarah seraya bermain-main di tepi pantai? Mungkin saja dan ini bisa kita lakukan saat berkunjung ke Pantai Tanjung Kalian, Pulau Bangka. Pantai Tanjung Kalian adalah sebuah pantai elok yang hanya berjarak kira-kira 9 km dari pusat Kota Muntok, kota tua yang sekaligus sebagai ibukota Kabupaten Bangka Barat.




Saya dan sembilan orang teman yang kala itu Kuliah Kerja Nyata (KKN) di salah satu desa di sana, pernah berkunjung ke situ. Selain elok, Pantai Tanjung Kalian juga bercerita perihal banyak sejarah, salah satunya tentang Perang Dunia 2. Seperti yang telah saya ceritakan sebelumnya, pantai ini cukup mudah dijangkau karena jaraknya yang dekat dengan pusat kota. Apalagi tak jauh dari pantai ini berdiri megah sebuah pelabuhan penyeberangan menuju Pulau Sumatera yang diberi nama sama dengan nama pantai, Pelabuhan Tanjung Kalian.

Imbasnya, tentu saja jalan menuju kawasan pantai ini juga cukup baik. Suatu hari, memanfaatkan sisa waktu sebelum kembali ke aktivitas kampus. Saya sebagai ketua kelompok berinisiatif mengajak teman-teman berwisata untuk menyegarkan kembali pikiran setelah hampir satu bulan setengah menjalankan program KKN di tengah-tengah masyarakat desa. Pilihannya jatuh ke Muntok, kota sejarah yang juga menyimpan banyak kecantikan lain. Seperti Pantai Tanjung Kalian, kota ini memadukan keduanya, sejarah dan eloknya pantai.





Menggunakan sepeda motor, kami bersepuluh berangkat dari Desa Buyan Kelumbi, di Kecamatan Tempilang, masih di kabupaten yang sama. Jaraknya 100 km lebih, namun jarak yang jauh itu terasa sangat dekat karena semangat kebersamaan yang kami bangun sepanjang jalan. Setelah sempat singgah beberapa kali untuk berisitirahat. Sampailah akhirnya kami di Pantai Tanjung Kalian, tujuan pertama kami. Sebelum tiba di lokasi, dari kejauhan sudah tampak berdiri gagah sebuah mercusuar peninggalan zaman dulu. Namun sebelum menaiki mercusuar itu, terlebih kami beristirahat di bawah naungan angin tepi pantai. Ada sebuah rumah bergaya klasik di area dimana mercusuar berdiri. Setelahnya, barulah kami menaiki menara.

Dari atas menara, tampak kecantikan Kota Muntok dari kejauhan, serta gagahnya Pelabuhan Tanjung Kalian yang baru selesai dibangun kala itu. Sesekali juga tampak sebuah daratan dari kejauhan, yang waktu masih SD saya berkunjung ke sini. Kata orang-orang itu adalah daratan Pulau Sumatera. Sejauh mata memandang, hanya keindahan yang terlihat, putihnya pasir pantai, birunya laut Selat Bangka beserta puing-puing kapal sisa Perang Dunia II. Setelah puas menikmati keindahan alam Pulau Bangka dari ketinggian, kami menuruni mercusuar dan berjalan-jalan di tepi pantai.

Nah, di tepi pantai, kita akan bertemu dengan sebuah monumen. Menurut informasi yang tertulis di monumen itu adalah monumen yang sengaja dibuat pemerintah Australia untuk mengenang prajurit mereka yang gugur dalam kapal, yang bangkainya masih bisa disaksikan hingga sekarang di sana. Nah, datanglah ke pantai ini. Giliran Anda sekarang merasakan belajar sejarah seraya bersenang-senang-senang di tepi pantai.

(Artikel yang sama juga bisa dibaca di travel.detik.com dengan judul "Kalian Harus Datang ke Pantai Tanjung Kalian!" oleh penulis yang sama)

MIE IKAN TOBOALI DARI BANGKA, BIKIN NGILER!



Liburan ke suatu tempat tak lengkap rasanya bila tak mencicipi makanan daerah itu. Begitu pula saat Anda berlibur ke Pulau Bangka. Kuliner khas Bangka, mie ikan Toboali dijamin bikin ketagihan. Salah satu makanan dari daerah ini yang paling terkenal saat ini mungkin adalah Martabak Bangka yang rasanya memang menggugah selera. Akan tetapi, ada makanan lain yang dijamin akan membuat lidah Anda tak hendak berhenti bergoyang. Cobalah mie ikan Toboali.




Mie ikan Bangka memang dikenal sebagai salah satu kuliner khas daerah ini. Mie ikan Bangka yang saat ini sedang populer adalah mie Koba. Padahal, ada mie ikan jenis lain yang tak kalah lezat dari mie Koba, yakni mie ikan Toboali. Sebagaimana namanya, mie ikan ini berasal dari Toboali di Bangka Selatan. Orang-orang boleh berduyun-duyun membeli mie Koba yang memang lebih mudah ditemui di Pangkalpinang, ibukota Kepulauan Bangka Belitung, tanpa harus susah payah pergi ke Koba di Bangka Tengah. Saya juga salah seorang yang gemar makan mie ikan Bangka. Namun, tidak seperti orang kebanyakan, saya justru lebih menyukai cita rasa mie ikan Toboali.

Saat terakhir pulang ke Pulau Bangka beberapa waktu yang lalu, mie ikan Toboali memang hanya bisa ditemui di Toboali di Bangka Selatan. Belum ada penjual yang membuka cabang di Pangkalpinang. Meskipun demikian, warung-warung mie ikan ini selalu ramai diserbu warga. Padahal di Toboali, ada beberapa warung mie ikan, namun tetap saja semuanya sesak dengan warga yang ingin menikmati kuliner khas Pulau Bangka ini.

Ada beberapa perbedaan yang membuat saya lebih menyukai mie ikan Toboali dibandingkan mie ikan Koba, meskipun keduanya mie kuah ikan yang sama-sama berasal dari Pulau Bangka. Pertama, mie ikan Toboali rasanya tak semanis mie ikan Koba. Maklum, lidah saya kurang cocok dengan makanan manis. Selanjutnya, tidak seperti mie ikan Koba, mie ikan Toboali disajikan dengan potongan daun bawang yang membuat rasa mie semakin lezat saja. Terakhir, dan ini istimewanya mie ikan Toboali, mie ikan ini bisa dinikmati dicampur dengan sate ikan khas daerah sini. Wah, bisa dibayangkan bagaimana nikmatnya.







Nah, bagi Anda yang sedang berlibur di bagian selatan Pulau Bangka, cobalah mie ikan Toboali. Setahu saya, ada dua warung mie ikan di Toboali, yakni tak jauh dari Pasar Toboali dan di Terminal Toboali. Saran saya, bila ingin menikmati mie ikan yang kuahnya terbuat dari daging ikan segar ini, datanglah agak pagi. Siang sedikit, biasanya sate ikan sudah ludes. Padahal, itulah sensasi yang membedakan mie ikan Toboali dengan mie ikan lain di Pulau Bangka.

(Artikel yang sama juga bisa dibaca di travel.detik.com dengan judul "Mie Ikan Toboali dari Bangka, Bikin Ngiler!" oleh penulis yang sama)